Welcome to Amoeba's Blog

Welcome to Amoeba's Blog
Please enjoy with us ..
Thank you .

Rabu, 01 Februari 2012

Bab 6


Proses Pencernaan

Organ-organ Pencernaan 
Proses pencernaan adalah suatu proses yang melibatkan 
organ-organ pencernaan dan kelenjar-kelenjar pencernaan. Antara 
proses dan organ-organ dan kelenjarnya merupakan kesatuan 
sistem pencernaan. Sistem pencernaan berfungsi memecah bahan- 
bahan makanan menjadi sari-sari makanan yang siap diserap dalam 
tubuh.
Berdasarkan prosesnya, pencernaan makanan dapat dibedakan 
menjadi dua macam seperti berikut. 
1. Proses mekanis, yaitu pengunyahan oleh gigi dengan dibantu 
lidah dan peremasan yang terjadi di lambung. 
2. Proses kimiawi, yaitu pelarutan dan pemecahan makanan oleh 
enzim-enzim pencernaan dengan mengubah makanan yang ber- 
molekul besar menjadi molekul yang berukuran kecil.
Makanan mengalami proses pencernaan sejak makanan berada 
di dalam mulut sampai proses produksi sisa-sisa makanan hasil 
pencernaan. Adapun proses pencernaan makanan meliputi hal-hal 
berikut. 
1. Ingesti: pemasukan makanan ke dalam tubuh melalui mulut. 
2. Mastikasi: proses mengunyah makanan oleh gigi. 
3. Deglutisi: proses menelan makanan di kerongkongan. 
4. Digesti: pengubahan makanan menjadi molekul yang lebih 
sederhana dengan bantuan enzim, ada di lambung. 
5. Absorpsi: proses penyerapan, terjadi di usus halus. 
6. Defekasi: produksi sisa makanan yang sudah tidak berguna 
untuk tubuh melalui anus. 
Saat melakukan proses-proses pencernaan tersebut diperlukan 
serangkaian alat-alat pencernaan sebagai berikut.

A. Alat-alat Pencernaan
1. Mulut 
Makanan pertama kali masuk ke dalam tubuh melalui mulut. 
Makanan ini mulai dicerna secara mekanis dan kimiawi. Di dalam 
mulut seperti Gambar 6.1, ada beberapa alat yang berperan 
dalam proses pencernaan yaitu gigi, lidah, dan kelenjar ludah 
(glandula salivales).
a. Gigi 
Pada manusia, gigi berfungsi sebagai alat pencernaan 
mekanis. Di sini, gigi membantu memecah makanan menjadi 
potongan-potongan yang lebih kecil. Hal ini akan membantu 
enzim pencernaan agar dapat mencerna makanan 
lebih efisien dan cepat. Selama pertumbuhan dan per- 
kembangan, gigi manusia mengalami perubahan, mulai dari 
gigi susu dan gigi tetap (permanen). Gigi pertama pada bayi 
dimulai saat usia 6 bulan. Gigi pertama ini disebut gigi susu 
(dens lakteus). Pada anak berusia 6 
tahun, gigi berjumlah 20, dengan urutan sebagai berikut. 
1) Gigi seri (dens insisivus), berjumlah 8 buah, berfungsi 
memotong makanan. 
2) Gigi taring (dens caninus), berjumlah 4 buah, berfungsi 
merobek makanan. 
3 ) Gigi geraham kecil (dens premolare), berjumlah 8 buah, 
berfungsi mengunyah makanan.
Struktur luar gigi terdiri 
atas bagian-bagian berikut. 
1) Mahkota gigi (corona) merupakan bagian yang tampak 
dari luar. 
2) Akar gigi (radix) merupakan bagian gigi yang tertanam 
di dalam rahang. 
3) Leher gigi (kolom) merupakan bagian yang dilindungi 
oleh gusi.
Adapun penampang gigi dapat diperlihatkan bagian- 
bagiannya sebagai berikut. 
1) Email (glazur atau enamel) merupakan bagian terluar 
gigi. Email merupakan struktur terkeras dari tubuh, 
mengandung 97% kalsium dan 3% bahan organik. 
2) Tulang gigi (dentin), berada di sebelah dalam email, 
tersusun atas zat dentin. 
3) Sumsum gigi (pulpa), merupakan bagian yang paling 
dalam. Di pulpa ada kapiler, arteri, vena, dan saraf. 
4) Semen merupakan pelapis bagian dentin yang masuk 
ke rahang.
b. Lidah 
Lidah dalam sistem pencernaan berfungsi untuk mem- 
bantu mencampur dan menelan makanan, mempertahankan 
makanan agar berada di antara gigi-gigi atas dan bawah 
saat makanan dikunyah dan sebagai alat perasa makanan. 
Lidah dapat berfungsi sebagai alat perasa makanan karena 
mengandung banyak reseptor pengecap atau perasa . Lidah 
tersusun atas otot lurik dan permukaannya dilapisi dengan 
lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir 
(mukosa).
c. Kelenjar ludah 
Ada tiga pasang kelenjar ludah di dalam rongga mulut, 
yaitu glandula parotis, glandula submaksilaris, dan glandula 
Sublingualis atau glandula Submandibularis. Amati gambar 6.4 
agar Anda mengenali letak ketiga kelenjar ludah tersebut.
Air ludah berperan penting dalam proses perubahan zat 
makanan secara kimiawi yang terjadi di dalam mulut. Setelah 
makanan dilumatkan secara mekanis oleh gigi, air ludah ber- 
peran secara kimiawi dalam proses membasahi dan mem- 
buat makanan menjadi lembek agar mudah ditelan. Ludah 
terdiri atas air (99%) dan enzim amilase. Enzim ini meng- 
uraikan pati dalam makanan menjadi gula sederhana 
(glukosa dan maltosa). Makanan yang telah dilumatkan 
dengan dikunyah dan dilunakkan di dalam mulut oleh air liur 
disebut bolus. Bolus ini diteruskan ke sistem pencernaan 
selanjutnya.
2. Kerongkongan (Esofagus) 
Kerongkongan merupakan saluran panjang (± 25 cm) yang 
tipis sebagai jalan bolus dari mulut menuju ke lambung. Fungsi 
kerongkongan ini sebagai jalan bolus dari mulut menuju lambung. 
Bagian dalam kerongkongan senantiasa basah oleh cairan 
yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar yang ada pada dinding 
kerongkongan untuk menjaga agar bolus menjadi basah dan licin. 
Kondisi ini akan mempermudah bolus bergerak melalui 
kerongkongan menuju ke lambung. Bergeraknya bolus dari mulut
ke lambung melalui kerongkongan karena adanya gerak 
peristaltik pada otot dinding kerongkongan. 
Gerak peristaltik dapat terjadi karena adanya kontraksi otot 
secara bergantian pada lapisan otot yang tersusun secara me- 
manjang dan melingkar. Proses gerak bolus di dalam kerongkongan 
menuju lambung
Sebelum seseorang mulai makan, bagian belakang mulut (atas) 
terbuka sebagai jalannya udara dari hidung. Di kerongkongan, 
epiglotis yang seperti gelambir mengendur sehingga udara masuk 
ke paru-paru. Ketika makan, makanan dikunyah dan ditelan masuk 
ke dalam kerongkongan. Sewaktu makanan bergerak menuju 
kerongkongan, langit-langit lunak beserta jaringan mirip gelambir 
di bagian belakang mulut (uvula) terangkat ke atas dan menutup 
saluran hidung. Sementara itu, saat makanan bergerak ke arah 
tutup trakea, epiglotis akan menutup sehingga makanan tidak masuk 
trakea dan paru-paru tetapi makanan tetap masuk ke kerongkongan.
3. Lambung 
Lambung merupakan saluran pencernaan yang berbentuk 
seperti kantung, terletak di bawah sekat rongga badan. Dengan 
mengamati Gambar 6.5, Anda dapat mengetahui bahwa lambung 
terdiri atas tiga bagian sebagai berikut. 
a. Bagian atas disebut kardiak, merupakan bagian yang ber- 
batasan dengan esofagus. 
b. Bagian tengah disebut fundus, merupakan bagian badan 
atau tengah lambung. 
c. Bagian bawah disebut pilorus, yang berbatasan dengan 
usus halus. 
Daerah perbatasan antara lambung dan kerongkongan ter- 
dapat otot sfinkter kardiak yang secara refleks akan terbuka bila 
ada bolus masuk. Sementara itu, di bagian pilorus terdapat otot
yang disebut sfinkter pilorus. Otot-otot lambung ini dapat ber- 
kontraksi seperti halnya otot-otot kerongkongan. Bila otot- 
otot ini berkontraksi, otot-otot tersebut menekan, meremas, dan 
mencampur bolus-bolus tersebut menjadi kimus (chyme).
Sementara itu, pencernaan secara kimiawi dibantu oleh 
karet lambung. Karet ini diproduksi oleh kelenjar yang terletak 
di dinding lambung di bawah fundus, sedangkan bagian dalam 
dinding lambung menghasilkan lendir yang berfungsi melindungi 
dinding lambung dari abrasi asam lambung, dan dapat beregenerasi 
bila cidera. Getah lambung ini dapat diproduksi akibat rangsangan 
bolus saat masuk ke lambung. Getah lambung mengandung 
bermacam-macam zat kimia, yang sebagian besar terdiri atas 
air. Getah lambung juga mengandung HCl / asam lambung dan 
enzim-enzim pencernaan seperti renin, pepsinogen, dan lipase.
Asam lambung memiliki beberapa fungsi berikut. 
a. Mengaktifkan beberapa enzim yang terdapat dalam getah 
lambung, misalnya pepsinogen diubah menjadi pepsin. Enzim 
ini aktif memecah protein dalam bolus menjadi proteosa dan 
pepton yang memiliki ukuran molekul lebih kecil. 
b. Menetralkan sifat alkali bolus yang datang dari rongga mulut. 
c. Mengubah kelarutan garam mineral. 
d. Mengasamkan lambung (pH turun 1-3), sehingga dapat 
membunuh kuman yang ikut masuk ke lambung bersama 
bolus. 
e. Mengatur membuka dan menutupnya katup antara lambung 
dan usus dua belas jari. 
f. Merangsang sekresi getah usus.
Enzim renin dalam karet lambung berfungsi mengendapkan 
kasein atau protein susu dari air susu. Lambung dalam suasana 
asam dapat merangsang pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin 
ini berfungsi memecah molekul protein menjadi molekul- 
molekul peptida. Sementara itu, lipase berfungsi mengubah 
lemak menjadi asam lemak dan gliserol. 
Selanjutnya, kimus akan masuk ke usus halus melalui suatu 
sfinkter pilorus yang berukuran kecil. Bila otot-otot ini 
berkontraksi, maka kimus didorong masuk ke usus halus sedikit 
demi sedikit.
4. Usus halus 
Usus halus merupakan saluran berkelok-kelok yang 
panjangnya sekitar 6-8 meter, lebar 25 mm dengan banyak 
lipatan yang disebut vili atau jonjot-jonjot usus. Vili ini berfungsi 
memperluas permukaan usus halus yang berpengaruh terhadap 
proses penyerapan makanan. Lakukan eksperimen berikut untuk 
mengetahui pengaruh lipatan terhadap proses penyerapan.
Usus halus terbagi menjadi tiga bagian seperti berikut: 
a. duodenum (usus 12 jari), panjangnya ± 25 cm, 
b. jejunum (usus kosong), panjangnya ± 7 m, 
c. ileum (usus penyerapan), panjangnya ± 1 m.
Kimus yang berasal dari lambung mengandung molekul- 
molekul pati yang telah dituangkan di mulut dan lambung, 
molekul protein yang telah dituangkan di lambung, 
molekul lemak yang belum dicernakan dan zat-zat lain. 
Selama di usus halus, semua molekul pati dituangkan lebih 
sempurna menjadi molekul glukosa. Sementara itu 
molekul protein dicerna menjadi molekul asam 
amino, dan semua molekul lemak dicerna menjadi molekul 
gliserol dan asam lemak.
Pencernaan makanan yang terjadi di usus halus lebih banyak 
bersifat kimiawi. Berbagai macam enzim diperlukan untuk 
membantu proses pencernaan kimiawi ini. 
Hati, pankreas, dan kelenjar-kelenjar yang ada di dalam 
dinding usus halus bisa menghasilkan getah pencernaan. 
Getah ini bercampur dengan kimus di dalam usus halus. Getah 
pencernaan yang berperan di usus halus ini berupa cairan 
empedu, getah pankreas, dan karet usus.
a. Cairan Empedu 
Cairan empedu kuning kehijauan, 86% berupa 
air, dan tidak mengandung enzim. Akan tetapi, mengandung 
mucin dan garam empedu yang berperan dalam pencernaan 
makanan. Cairan empedu tersusun atas bahan-bahan 
berikut. 
1) Air, berguna sebagai pelarut utama. 
2) Mucin, berguna untuk membasahi dan melicinkan 
duodenum agar tidak terjadi iritasi pada dinding usus. 
3) Garam empedu, mengandung natrium karbonat yang 
mengakibatkan empedu bersifat alkali. Garam empedu 
juga berfungsi menurunkan tegangan permukaan lemak 
dan air (mengemulsikan lemak).
Cairan ini diproduksi oleh hati. Perhatikan Gambar 6.9. 
Hati merupakan kelenjar pencernaan terbesar dalam tubuh 
yang beratnya ± 2 kg. Dalam sistem pencernaan, hati 
berfungsi sebagai pembentuk empedu, tempat penimbunan 
zat-zat makanan dari darah dan penyerapan unsur besi dari 
darah yang telah rusak. Selain itu, hati juga berfungsi 
membentuk darah pada janin atau pada kondisi darurat, 
pembentukan fibrinogen dan heparin untuk disalurkan ke 
peredaran darah dan pengaturan suhu tubuh.
Empedu mengalir dari hati melalui saluran empedu dan 
masuk ke usus halus. Dalam proses pencernaan ini, empedu 
berperan dalam proses pencernaan lemak, yaitu sebelum 
lemak dituangkan, lemak harus bereaksi dengan empedu 
sebelumnya. Selain itu, cairan empedu berfungsi 
menetralkan asam klorida dalam kimus, menghentikan 
aktivitas pepsin pada protein, dan merangsang gerak 
peristaltik usus.
b. Getah pancreas 
Karet pankreas diproduksi di dalam organ pankreas. 
Pankreas ini berperan sebagai kelenjar eksokrin yang 
menghasilkan getah pankreas ke dalam saluran pencernaan 
dan sebagai kelenjar endokrin yang memproduksi hormon 
insulin. Hormon ini dikeluarkan oleh sel-sel berbentuk pulau- 
pulau yang disebut pulau-pulau langerhans. Insulin ini 
berfungsi menjaga gula darah agar tetap normal dan 
mencegah diabetes melitus.
Getah pankreas ini dari pankreas mengalir melalui 
saluran pankreas Akses usus halus. Dalam pankreas 
ada tiga macam enzim, yaitu lipase yang membantu dalam 
pemecahan lemak, tripsin membantu dalam pemecahan pro- 
tein, dan amilase membantu dalam pemecahan pati.
c. Karet Usus 
Pada dinding usus halus banyak terdapat kelenjar yang 
mampu memproduksi karet usus. Getah usus mengandung 
enzim-enzim seperti berikut. 
1) Sukrase, berfungsi membantu mempercepat proses pe- 
mecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. 
2) maltase, berfungsi membantu mempercepat proses 
pemecahan maltosa menjadi dua molekul glukosa. 
3) Laktase, berfungsi membantu mempercepat proses 
pemecahan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. 
4) Enzim peptidase, berfungsi membantu mempercepat 
proses pemecahan peptida menjadi asam amino.
Monosakarida, asam amino, asam lemak, dan gliserol 
hasil pencernaan terakhir di usus halus mulai diabsorpsi atau 
diserap melalui dinding usus halus terutama di bagian 
jejunum dan ileum. Selain itu vitamin dan mineral juga 
diserap. Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, 
penyerapannya bersama dengan pelarutnya, sedangkan 
vitamin yang larut dalam air penyerapannya dilakukan 
jonjot usus.
Penyerapan mineral sangat beragam terkait dengan 
sifat kimia segala mineral dan perbedaan struktur bagian- 
bagian usus. Sepanjang usus halus sangat efisien dalam 
penyerapan Na +, tetapi tidak untuk Cl 
-, HCO3 
-, dan ion-ion 
bivalen. Ion K + 
penyerapannya terbatas di jejunum. 
Penyerapan Fe + + terjadi di duodenum dan jejunum. 
Proses penyerapan di usus halus ini dilakukan oleh villi 
(jonjot-jonjot usus). Di dalam villi ini ada pembuluh darah, 
pembuluh kil (limfa), dan sel goblet. Di sini asam amino dan 
glukosa diserap dan diangkut oleh darah menuju hati melalui 
sistem vena porta hepatikus, sedangkan asam lemak 
bereaksi terlebih dahulu dengan garam empedu membentuk 
emulsi lemak. Emulsi lemak bersama gliserol diserap ke 
dalam villi. Selanjutnya di dalam villi, asam lemak dilepaskan, 
kemudian asam lemak mengikat gliserin dan membentuk 
lemak kembali. Lemak yang terbentuk masuk ke tengah villi, 
yaitu ke dalam pembuluh kil (limfa).
Melalui pembuluh kil, emulsi lemak menuju vena sedang- 
kan garam empedu masuk ke dalam darah menuju hati dan 
dibentuk lagi menjadi empedu. Bahan-bahan yang tidak dapat 
diserap di usus halus akan didorong menuju usus besar 
(kolon).
5. Usus besar 
Usus besar atau kolon memiliki panjang ± 1 meter dan terdiri 
atas kolon ascendens, kolon transversum, dan kolon descendens. 
Di antara intestinum tenue (usus halus) dan intestinum 
crassum (usus besar) ada sekum (usus buntu). 
Pada ujung sekum ada tonjolan kecil yang disebut 
appendiks (umbai cacing) yang berisi massa sel darah 
putih yang berperan dalam imunitas.
Zat-zat sisa di dalam usus besar ini didorong ke 
bagian belakang dengan gerakan peristaltik. Zat-zat sisa 
ini masih mengandung banyak air dan garam mineral 
yang diperlukan oleh tubuh. Air dan garam mineral 
kemudian diabsorpsi kembali oleh dinding usus besar, yaitu 
kolon ascendens. Zat-zat sisa dalam usus besar 
selama 1 sampai 4 hari. Pada saat itu terjadi proses 
pembusukan terhadap zat-zat sisa dengan dibantu 
bakteri Escherichia coli, yang mampu membentuk 
vitamin K dan B12. Selanjutnya dengan gerakan 
peristaltik, zat-zat sisa ini terdorong sedikit demi sedikit 
ke saluran akhir dari pencernaan yaitu rektum dan 
akhirnya keluar dengan proses defekasi melewati anus.
Defekasi diawali dengan terjadinya penggelembungan bagian 
rektum akibat suatu rangsang yang disebut refleks gastrokolik. 
Kemudian akibat adanya aktivitas kontraksi rektum dan otot 
sfinkter yang berhubungan mengakibatkan terjadinya defekasi. 
Di dalam usus besar ini semua proses pencernaan telah selesai 
dengan sempurna.

B. Gangguan Alat Pencernaan
1. Gastritis , adalah suatu radang yang akut atau kronis pada lapisan mukosa dinding lambung. Radang yang akut dapat disebabkan oleh makanan yang kotor, dan radang yang kronis disebabkan oleh kelebihan asam dalam lambung.
2. Radang hati yang menular (Hepatitis), merupakan infeksi virus pada hati, sering meluas melalui air atau makanan yang terkontaminasi oleh virus.
3. Diare, dapat ditimbulkan karena adanya iritasi pada selaput dinding kolon oleh bakteri disentri, diet yang jelek, zat-zat beracun, rasa gelisah, atau makanan yang dapat menimbulkan iritasi pada dinding usus.
4. Sembelit yang kronis bila defekasi terlambat, usus besar mengabsorpsi air secara berlebihan dari feses dan menyebabkan feses menjadi kering dan keras. Kapan hal ini terjadi, produksi feses menjadi sulit. Menahan buang air besar pada waktu-waktu yang normal dapat menyebabkan sembelit. Semebleit dapat juga disebabkan emosi seperti rasa gelisah, cemas, takut atau stress.
5. Kanker lambung, yaitu gejala-gejala awal dari kanker lambung hampir sama dengan gejala-gejala yang disebabkan gangguan lain pada alat pencernaan, antara lain merasa panas, kehilangan nafsu makan, ketidaksanggupan mencerna (salah cerna) berlangsung terus menerus, sedikit rasa muak, rasa gembung dan rasa gelisah sesudah makan, dan kadang-kadang timbul rasa nyeri pada lambung.
6. Radang usus buntu, bila usus buntu (umbai cacing) meradang, membengkak dan terisi oleh nanah.Kondisi ini disebut radang usus buntu atau apendistis.
7. Hemaroid, adalah pembengkakan vena didaerah anus. Hemaroid cenderung berkembang pada orang-orang yang terlalu lama duduk terus menerus atau pada orang yang menderita sembelit. Hemaroid juga sering terjadi pada wanita hamil dan orang-orang yang terlalu gemuk. Gejala-gejala hemaroid meliputi rasa gatal-gatal, nyeri dan pendarahan.
8. Keracunan makanan , umumnya disebabkan oleh bakteri yang terdapat dalam makanan. Bakteri dalam makanan dapat membahayakan atau menghasilkan racun yang membahayakan tubuh. Geajala-gejala keracunan makanan meliputi muntah-muntah, diare, nyeri (sakit) rongga dada dan perut serta demam.
(Hasyim/2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.